Thursday, May 1, 2008

Ketika Pensil Anak-anak Itu Tidak Bergerak...

Sabtu, 26 April 2008 02:08 WIB
Oleh Andy Riza Hidayat
(http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/04/26/02080511/ketika.pensil.anak-anak.itu.tidak.bergerak...)

Kelengangan Jalan Galang, Lubuk Pakam, pecah. Rabu (23/4) pukul 13.30 ledakan keras dari pucuk senapan menyalak di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Lubuk Pakam, Deli Serdang. Sekelompok orang berpakaian sipil, tetapi bersenjata, membuka paksa sebuah ruangan di sana.
Para pendobrak pintu itu ternyata anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Sumut).
Guru yang ada di dalam ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Bimbingan Konseling (BK) kaget.
G Sianturi, guru bidang studi Ekonomi, hanya diam. Dia tak menduga ada petugas berpakaian sipil merangsek masuk ruangan. Petugas memergoki para guru membetulkan lembar jawaban siswa peserta ujian nasional (UN).
Tanpa banyak kata, mereka menyita 284 lembar jawaban siswa, pensil, penggaris, dan peruncing pensil. Para guru gemetar, sebagian menangis.
Tiga hari sudah berlalu, tetapi Sianturi mengaku masih shock. Dia mengatakan hanya ingin membantu siswa yang kesulitan mengerjakan soal Bahasa Inggris. Diakuinya semua direncanakan para guru. Pada saat para siswa terlihat tidak bisa mengerjakan soal, guru-guru akan membantu membetulkan jawaban. ”Kami terpaksa,” katanya.
Bahasa Inggris adalah mata ujian pertama yang dijadwalkan pukul 08.00-10.00 hari itu. Begitu soal dan lembar jawaban terkumpul, empat guru Bahasa Inggris membuat kunci jawaban dan 16 guru kemudian ”ngebut” membetulkan ulang lembar jawaban 284 siswa di ruang UKS dan BK tadi. Sementara itu, siswa meneruskan mata ujian kedua: Kimia (untuk siswa jurusan IPA), Geografi (jurusan IPS), dan Sastra Indonesia (jurusan Bahasa).
Sianturi menuturkan, guru terpaksa membantu karena kasihan siswa tak mampu mengerjakan ujian Bahasa Inggris. Mereka sudah memprediksi anak didiknya akan mengalami kesulitan meski sebelum UN, siswa sudah menjalani uji coba soal ujian dua kali. Hasil uji coba memang mengkhawatirkan. Itulah mengapa muncul ide untuk membantu siswa. Sayangnya, cara mereka justru mengubur makna pendidikan itu sendiri.
Para guru sadar, pilihan mereka merupakan tindakan keliru. ”Kami sudah mengajarinya tiga tahun. Kalau mereka gagal UN, kasihan orangtuanya, kan,” katanya. Ia menyesal, tetapi nasi sudah menjadi bubur.
Meski enggan bicara, Kepala SMAN 2 Lubuk Pakam Ramlan Lubis mengakui kejadian itu. ”Kasihan siswa. Saat mengerjakan soal Bahasa Inggris, kami lihat pensil anak-anak itu tak bergerak, tanda tak bisa mengerjakan,” kata Ramlan dengan wajah menunduk. Wajah itu kusut, tetapi hampa.
Ramlan menggerutu pemerintah terlalu memaksakan UN. Baginya, penyamaan soal UN sangat tidak adil. ”Bagi anak Jakarta, soal Bahasa Inggris itu mungkin mudah. Namun, bagi siswa kami, soal UN sangat sulit. UN ini terlalu dipaksakan sehingga kami pun terpaksa membantu siswa,” ujarnya.
Argumen Ramlan ini mungkin benar menyangkut kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah. Ramlan dan para guru hanya tidak sampai hati saja melihat siswa mereka gagal. ”Karena sebagian besar orangtua mereka itu buruh tani dan buruh kebun,” katanya.
Kini wajahnya tambah keruh. Dua malam terakhir dia kurang istirahat. Rabu siang lalu dia harus menjalani pemeriksaan polisi bersama 16 guru lain sampai Kamis dini hari. Kini mereka berstatus tersangka pelanggar Pasal 263 (perihal pemalsuan surat) KUHP dengan ancaman hukuman paling lama 6 tahun penjara. Mereka wajib lapor kepada polisi dua kali seminggu.
Ramlan ingin semua pihak memahami peristiwa di sekolahnya. Namun, ia tak melanjutkan perkataannya. Dia buru-buru meninggalkan sekolah saat sejumlah wartawan ingin meminta penjelasan lagi. Ia mengakhiri pembicaraan dan pulang.
Para guru kemarin duduk-duduk di lorong sekolah. Satu per satu meninggalkan tempat duduk setelah tahu yang datang adalah wartawan. Di beberapa ruang, sejumlah siswa berbincang. Sebagian ikut ekstrakurikuler. Saat didekati, mereka membalikkan badan.
Sejak peristiwa Rabu lalu, tak banyak informasi keluar dari sekolah. Suasana sekolah itu kini jadi beku karena kekeliruan. Bangku-bangku dan lorong sekolah terasa senyap. Di salah satu meja guru bertumpuk koran-koran berisi berita penggerebekan para guru dan kecurangan sekolah itu.
Akan tetapi, praktik kecurangan UN di Sumut tak cuma terjadi di SMAN 2 Lubuk Pakam. Kecurangan juga terjadi di enam daerah lain di 24 SMA sederajat, yaitu di Medan, Humbang Hasundutan, Pematang Siantar, Simalungun, Toba Samosir, dan Binjai. Kecurangan di enam daerah itu masih sebatas laporan Komunitas Air Mata Guru (KAMG), belum termasuk kejadian lain seperti di SMAN 2 Lubuk Pakam.
Tahun lalu, KAMG melaporkan kecurangan serupa di sejumlah daerah di Sumut. Praktik kecurangan terbukti direncanakan demi nama baik sekolah dan daerah. Yang mengherankan, proses hukum bagi para pelaku kecurangan UN ternyata tak benar-benar ditegakkan. Setahun kemudian kasus serupa terulang.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Deli Serdang Ajun Komisaris Polisi Ruruh Wicaksono mengatakan, penggerebekan dilakukan berkat informasi awal datang dari seseorang.
Kedatangan satuan Densus 88 ke sekolah mendapat reaksi keras dari Wagino, orangtua murid dan kebetulan Ketua Komite Sekolah SMAN 2 Lubuk Pakam. ”Saya menyayangkan polisi. Tindakan mereka berlebihan. Apalagi ada letusan senjata,” ujarnya.
Wagino juga kesal dan kecewa pada sekolah itu. ”Namun, itu bukan tanpa sebab. Semua terjadi karena UN dipaksakan digelar di seluruh Indonesia. Bagaimana bisa fair, kualitas guru beda, fasilitas sekolah berbeda. Anak-anak kami harus menghadapi soal yang sama dengan soal siswa di Jakarta,” katanya.

Anak Belajar dari Kehidupannya (Dorothy Law Nolte)

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Tuesday, April 8, 2008

NYIUR HIJAU (karya Maladi)

Nyiur hijau, di tepi pantai
Siar siur, daunnya melambai
Padi mengembang, kuning merayu
Burung-burung, bernyanyi gembira

Tanah airku, tumpah darahku
Tanah yang subur, kaya makmur
Tanah airku, tumpah darahku
Tanah yang indah, permai nyata

Monday, April 7, 2008

Internet Murah dengan First Media

Selama ini saya selalu kesulitan untuk memakai internet di rumah. Maklum, rumah saya kebetulan termasuk yang "kurang beruntung" sehingga tak mendapat jatah telepon kabel / PSTN dari PT Telkom. Karena itu berinternet-ria dengan Telkomnet instan ataupun Speedy tak bisa dilakukan. Alternatif berikutnya adalah dengan menggunakan jaringan wireless. Sayang seribu sayang, jaringan 3G juga belum mau mampir ke daerah rumah saya. Pilihan yang terpaksa diambil adalah menggunakan jaringan GPRS "biasa" dari operator GSM. Kebetulan saya hanya memiliki telepon selular GSM. Untuk membeli telepon CDMA yang konon kecepatan datanya lebih tinggi dari GPRS itu belum bisa dilakukan karena pertimbangan efisiensi. Jadi, "terpaksalah" ber-internet di rumah dilakukan dengan menggunakan ponsel GSM plus kabel modemnya. Namun sayang, ada dua kelemahan yang sangat mengganggu dari pemakaian GPRS ini : biaya yang mahal dan kecepatan yang amat sangat terlampau LAMBAT sekali.

Tapi akhirnya jaman jahiliyah itu berlalu. Setelah proses "Awas Galian Serat Optik" yang memakan waktu beberapa hari, beberapa bulan kemudian muncul lah orang-orang berseragam First Media menawarkan jasa mereka. Tentu saya tak langsung menyambut mereka dengan tangan terbuka, karena sebelumnya saya sempat membaca komplain dari pelanggan mereka di surat pembaca Kompas. Belum lagi ketika googling dengan kata kunci First Media, banyak juga yang komplain dengan pelayanan First Media a.k.a Kabel Vision ini. Baik itu tentang layanan internetnya (FastNet) ataupun TV kabelnya (HomeCable). Tetapi ada juga pelanggan yang cukup puas dengan FastNet, terutama karena kecepatannya dan tarifnya yang sangat murah.

Karena kebutuhan internet yang mendesak, akhirnya saya memberanikan diri juga menelepon sales mereka. Responnya ternyata sangat cepat, dua hari kemudian rumah saya disurvey dan kabel + modemnya langsung dipasang. Test pertama membuat saya terkagum-kagum. Kecepatannya ruaarr biasa. Dan ini semua saya dapatkan bahkan sebelum saya membayar sepeser pun.

Namun tak lama setelah teknisinya pergi, masalah pertama pun muncul. Si FastNet terputus-putus selama beberapa saat. Tetapi malamnya sudah mulai lancar kembali. Beberapa hari kemudian si fastNet tak pernah putus lagi. Sampai saat ini saya masih senang menggunakan FastNet karena kecepatannya dan terutama karena tarifnya yang murah, 99 ribu (+ PPN) sepuasnya. Tanpa takut dikenai biaya tambahan ataupun tarif membengkak karena kesalahan billing center.

Di bawah ini hasil test kecepatan dengan menggunakan Speedtest :

Saturday, April 5, 2008

Friday, April 4, 2008

Planet

Hari Senin pagi, tanggal 31 Maret 2008.


Sebelum berangkat kerja aku menyempatkan diri menggotong teleskop ke halaman belakang rumah. Sebuah "bintang" yang cukup terang menarik perhatianku. Letaknya tak terlalu jauh dari bulan setengah yang masih jelas terlihat di atas kepala. Ketika "bintang" itu aku intip dengan teleskop, ternyata bentuknya bundar dan tidak memancarkan cahaya yang menyilaukan seperti layaknya bintang. Warnanya putih agak keabuan. Aku segera tahu, ini pastilah sebuah planet. Saat itu yang terpikir adalah : Venus ? Tapi setelah membuka Stellarium, aku menjadi yakin bahwa planet itu ternyata adalah Jupiter. Hari Selasa pagi keesokan harinya, aku kembali mengamati sang Jupiter. Kali ini aku dapat melihat garis-garis melintang dipermukaannya yang merupakan tanda khas Jupiter.

(Gambar dari : http://nssdc.gsfc.nasa.gov/)

Kemudian siangnya aku mendapat pinjaman sebuah lensa Barlow dari seorang teman. Selasa malam aku kembali berburu planet. Kali ini tanpa sengaja aku menemukan Saturnus. Tampak cincin Saturnus yang terkenal itu, dan gambarnya semakin besar setelah aku menambahkan lensa Barlow pinjaman.


(Gambar dari : http://nssdc.gsfc.nasa.gov/)

Ini adalah pengalaman pertamaku melihat planet dengan teleskop. Sungguh pengalaman yang berkesan. Sukar dilukiskan dengan kata-kata. Akhirnya planet-planet yang selama ini hanya kulihat gambarnya bisa kusaksikan secara langsung melalui teleskop.