Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Monday, October 6, 2008

Pemadam Kebakaran

Tadi malam di siaran berita televisi, ada berita tentang kebakaran yang terjadi di pertokoan di Batam. Ditayangkan gambar pertokoan tersebut yang sedang berkobar dilalap api. Gambar berikutnya, ditampilkan sebuah mobil pemadam kebakaran yang baru datang dan kemudian berhenti / parkir di dekat lokasi kebakaran. Para personil pemadam kebakaran pun turun dari mobil pemadam, akan mulai bertugas.

Yang agak menarik :
1. Wartawan TV lebih dulu datang di lokasi kebakaran sebelum mobil pemadam kebakaran sampai. Positive thingking-nya : kantor TV letaknya lebih dekat ke lokasi kebakaran dibanding kantor PMK.
2. Mobil PMK datangnya nggak ngebut. Positive thingking-nya : si sopir bener-bener menjaga mobil aset negara.
3. Begitu turun dari mobil PMK, para awak dengan tenang baru memakai perlengkapan mereka (jaket pemadam, topi, dll.). Sama sekali tidak ada kesan terburu-buru. Beda jauh dengan di film2 barat, dimana untuk turun tangga saja mereka meluncur pakai pipa besi. Pakaian dan perlengkapan lainnya sudah terpakai sebelum sampai di lokasi kebakaran. Sehingga ketika mobil PMK sampai di lokasi, mereka langsung loncat dan siap action. Positive thingking-nya ??? Entah lah ...

Tuesday, May 27, 2008

Macet Karena Demo

Hari ini macet sekali di daerah seputar Cawang. Begitu juga jalan-jalan lain yang menuju atau melewatinya. Macetnya bukan macet biasa. Tetapi macet karena satu lajur jalan ditutup oleh mahasiswa UKI yang berdemo. Katanya mereka demo menentang kenaikan harga BBM.

Mungkin itu suatu bentuk perlawanan mahasiswa atas kesulitan hidup yang dialami masyarakat akibat kenaikan harga BBM. Tapi anehnya, demo itu malah membuat masyarakat makin sengsara. BBM yang mahal itu terbuang percuma dari ribuan kendaraan yang kena macet.

Masyarakat berdiri berdesakan di bus kota yang tak bergerak. Kepanasan, jengkel, dan resiko kehilangan uang makan karena terlambat masuk kantor. Banyak pegawai yang terlambat absensi hari ini. Banyak peluang dagang dan bisnis yang hilang hari ini.

Ironis ?

Membela rakyat tetapi membuat rakyat makin susah. Apa tidak ada cara lain yang lebih cerdas ?

Sunday, May 11, 2008

"Perang Gerilya" Si Umar Bakri

(sumber : http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/11/01412372/perang.gerilya.si.umar.bakri)

Minggu, 11 Mei 2008 01:41 WIB
Budi Suwarna dan Ilham Khoiri

Kekisruhan dalam ujian nasional belakangan mungkin mencerminkan sikap bangsa yang kerap hipokrit. Di satu sisi, pemerintah ngotot mematok standar kelulusan sebagai cermin peningkatan mutu pendidikan nasional. Saat bersamaan, standar itu dicapai dengan berbagai trik, tipu muslihat, atau lewat ”perang gerilya” yang melibatkan para guru.

Maya (nama samaran) tertawa sinis setiap kali mendengar pejabat mengklaim ujian nasional (UN) berlangsung sukses dan angka kelulusan tinggi. Soalnya, dia tahu benar, betapa ”sukses” itu diraih bukan melalui proses belajar-mengajar di sekolah, melainkan lewat ”perang gerilya” yang dilakoni para guru.

Guru sebuah SMA swasta di Jakarta itu mengungkapkan, hampir semua sekolah di rayonnya menyiapkan berbagai strategi ”perang gerilya” untuk memberikan contekan kepada siswa. Tahun ini Maya mengaku masuk dalam ”pasukan gerilya” bersama beberapa guru lain.

Saat hari-hari ujian, dia datang ke sekolah sekitar pukul 04.30. Mirip ”operasi subuh”. Begitu soal datang, ada guru yang bertugas merusak segel dan mengambil beberapa berkas soal untuk dikerjakan bersama-sama. ”Kami hanya punya waktu sekitar 30 menit untuk menyelesaikan soal sebelum pengawas datang,” ujarnya.

Bocoran jawaban itu lantas dibagikan kepada para siswa sebelum memasuki ruang ujian. ”Kadang, bocoran jawaban kami letakkan di WC. Nanti, ada siswa yang akan mengambil jawaban itu dan menyebarkannya kepada teman-temannya,” ujarnya.

Di sekolah lain, kata Maya, ada beberapa siswa terpilih yang dilibatkan dalam ”perang gerilya”. Setelah mendapat bocoran jawaban, dia bertugas mendistribusikannya kepada siswa lainnya.
”Perang gerilya” ini berlangsung sistematis dengan strategi yang matang dan terus diperbarui setiap tahun. Selama ini aman-aman saja. Maklum, sebelum UN, sejumlah sekolah di wilayahnya sudah bersepakat untuk saling tutup mata. ”Pengawas juga sudah tahu sama tahu. Yang penting, operasinya tidak menyolok,” katanya.

Di luar Jakarta, ”perang gerilya” juga terjadi di Sumatera Utara. Namun, entah karena strateginya tidak canggih, operasi itu tercium Detasemen Antiteror 88. Akibatnya, para guru yang terlibat pun digerebek ketika sedang membetulkan lembar jawaban milik siswa.

Berbagai tekanan

Pembocoran jawaban atau berbagai kecurangan lain sebenarnya terjadi hampir secara massal dan bukan dilandasi motif uang. Banyak pihak sadar, perbuatan itu jelas tidak mendidik. Para guru berani berbuat curang lantaran ingin menyelamatkan siswa yang hanya menjadi korban sistem yang bermasalah.

”Kalau tak lulus, mereka tidak dapat ijazah. Padahal, ijazah perlu untuk cari kerja di pabrik,” ujar Maya. Memang, sebagian besar siswa di sekolah itu berasal dari golongan menengah ke bawah yang tidak mampu melanjutkan kuliah.
Di luar pertimbangan itu, pembocoran juga dilakukan untuk mempertahankan prestise sekolah. Semakin banyak siswa gagal ujian, para guru semakin khawatir sekolahnya tak diminati lagi oleh para orangtua. Jika itu terjadi, sekolah bisa ditutup dan guru kehilangan kerja.

Terakhir, kecurangan itu dilakukan demi menyelamatkan muka pejabat. Sudah jadi rahasia umum, menteri, gubernur, bupati, wali kota, sampai kepala dinas pendidikan di kabupaten/kota mematok target kelulusan UN yang tinggi. Para pejabat di bawahnya semakin rajin menekan sekolah agar mencapai target itu, bagaimanapun caranya.

Iwan Hermawan, Sekretaris Jenderal Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) mengatakan, saat ini guru benar-benar tertekan. Banyak orangtua yang tidak mau tahu, anaknya harus lulus karena merasa telah keluar banyak uang. Begitulah, Si Umar Bakri yang sudah tertekan oleh gaji yang minim, semakin terbebani oleh pejabat dan sistem. ”Alhamdulillah, hingga kini tidak ada guru yang bunuh diri karena UN,” ujar Iwan.
Dia mengatakan, ”perang gerilya” yang dilakukan para guru sebenarnya adalah bentuk perlawanan paling sederhana terhadap sistem.

Cobaan berat

Sekolah umumnya sadar, persiapan agar lulus UN memang tak cukup hanya mengandalkan belajar biasa. Soal-soal ujian kerap terlalu sulit untuk dikerjakan siswa biasa. Karena itu, para siswa didorong untuk menjalani berbagai macam pelajaran tambahan: try out (TO), bimbingan belajar (bimbel), simulasi ujian, sampai pendalaman materi (PM).

Dewi Fitri (15), siswa SMPN di Bandung, misalnya, mengaku menghabiskan 20 jam sehari untuk berlatih mengerjakan soal. Mulai pukul 07.00 sampai 17.30, dia suntuk belajar dan mengikuti pemantapan materi di sekolah. Sore hingga malam, dia masih belajar lagi.
Setelah bangun pukul 03.00 pun, dia meneruskan belajar. Di luar itu, dia ikut les bimbingan belajar. Di sana, dia mengunyah-ngunyah rumus menjawab soal atau jurus tebak jawaban. Pokoknya capek deh!

Belum yakin dengan berbagai persiapan ujian secara rasional, banyak sekolah yang akhirnya mendorong siswa untuk menempuh jalan spiritual. Tujuannya, menggembleng mental siswa agar lebih tenang. Maka, kini banyak sekolah yang punya tren baru, yaitu menyelenggarakan istighotsah, kegiatan doa bersama yang biasa dijalani umat Islam untuk meminta pertolongan Tuhan dari cobaan yang berat.

Tren ini dijalani hampir di semua sekolah, mulai dari sekolah pinggiran sampai sekolah unggulan seperti SMAN 31 Jakarta. Sekolah ini menggelar istighotsah satu minggu sebelum ujian. Sebanyak 435 siswa dan sejumlah guru sekolah unggulan ini menginap di sekolah.
Dini hari, mereka dibangunkan dan diajak mengerjakan shalat tahajud, zikir, muhasabah (introspeksi diri), shalat taubat (mohon ampun kepada Tuhan), dan berdoa bersama. ”Banyak siswa yang mencium kaki orangtuanya setiba di rumah (untuk minta ampun),” kata Humas SMAN 31, Saur Hurabarat.

Istighotsah juga dilakukan di SMK Jakarta Pusat I. Begitu pula sejumlah sekolah di Bandung, seperti SMAN 9 dan SMPN 53. Lewat laku spiritual ini, diharapkan siswa lebih siap mental untuk menghadapi soal-soal ujian yang sulit sekalipun. Tentu, mereka juga berharap Tuhan berkenan melempangkan jalan agar siswa lulus ujian.

Bukannya tak menghargai istighotsah. Tetapi, fenomena ini menunjukkan, betapa sakralitas pendidikan telah bergeser dari krida untuk menggembleng ilmu pengetahuan ke wilayah spiritual. ”Menghadapi UN hampir tidak ada bedanya dengan menghadapi bencana. Siswa begitu putus asa sampai-sampai harus ber-istighotsah,” kata Iwan Hermawan.
UN baru saja dilalui. Setelah hari-hari yang berat itu, kini para siswa dan guru sedang ”deg-degan” menunggu hasil ujian yang bakal diumumkan pada pertengahan Juni nanti. ”Sekarang kami serahkan semuanya kepada kehendak Tuhan,” kata T Iskandar, guru agama SMK Jakpus I, dengan mimik penuh permohonan. (Yulvianus Harjono/ Yenti Aprianti)

Thursday, May 1, 2008

Ketika Pensil Anak-anak Itu Tidak Bergerak...

Sabtu, 26 April 2008 02:08 WIB
Oleh Andy Riza Hidayat
(http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/04/26/02080511/ketika.pensil.anak-anak.itu.tidak.bergerak...)

Kelengangan Jalan Galang, Lubuk Pakam, pecah. Rabu (23/4) pukul 13.30 ledakan keras dari pucuk senapan menyalak di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Lubuk Pakam, Deli Serdang. Sekelompok orang berpakaian sipil, tetapi bersenjata, membuka paksa sebuah ruangan di sana.
Para pendobrak pintu itu ternyata anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Sumut).
Guru yang ada di dalam ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Bimbingan Konseling (BK) kaget.
G Sianturi, guru bidang studi Ekonomi, hanya diam. Dia tak menduga ada petugas berpakaian sipil merangsek masuk ruangan. Petugas memergoki para guru membetulkan lembar jawaban siswa peserta ujian nasional (UN).
Tanpa banyak kata, mereka menyita 284 lembar jawaban siswa, pensil, penggaris, dan peruncing pensil. Para guru gemetar, sebagian menangis.
Tiga hari sudah berlalu, tetapi Sianturi mengaku masih shock. Dia mengatakan hanya ingin membantu siswa yang kesulitan mengerjakan soal Bahasa Inggris. Diakuinya semua direncanakan para guru. Pada saat para siswa terlihat tidak bisa mengerjakan soal, guru-guru akan membantu membetulkan jawaban. ”Kami terpaksa,” katanya.
Bahasa Inggris adalah mata ujian pertama yang dijadwalkan pukul 08.00-10.00 hari itu. Begitu soal dan lembar jawaban terkumpul, empat guru Bahasa Inggris membuat kunci jawaban dan 16 guru kemudian ”ngebut” membetulkan ulang lembar jawaban 284 siswa di ruang UKS dan BK tadi. Sementara itu, siswa meneruskan mata ujian kedua: Kimia (untuk siswa jurusan IPA), Geografi (jurusan IPS), dan Sastra Indonesia (jurusan Bahasa).
Sianturi menuturkan, guru terpaksa membantu karena kasihan siswa tak mampu mengerjakan ujian Bahasa Inggris. Mereka sudah memprediksi anak didiknya akan mengalami kesulitan meski sebelum UN, siswa sudah menjalani uji coba soal ujian dua kali. Hasil uji coba memang mengkhawatirkan. Itulah mengapa muncul ide untuk membantu siswa. Sayangnya, cara mereka justru mengubur makna pendidikan itu sendiri.
Para guru sadar, pilihan mereka merupakan tindakan keliru. ”Kami sudah mengajarinya tiga tahun. Kalau mereka gagal UN, kasihan orangtuanya, kan,” katanya. Ia menyesal, tetapi nasi sudah menjadi bubur.
Meski enggan bicara, Kepala SMAN 2 Lubuk Pakam Ramlan Lubis mengakui kejadian itu. ”Kasihan siswa. Saat mengerjakan soal Bahasa Inggris, kami lihat pensil anak-anak itu tak bergerak, tanda tak bisa mengerjakan,” kata Ramlan dengan wajah menunduk. Wajah itu kusut, tetapi hampa.
Ramlan menggerutu pemerintah terlalu memaksakan UN. Baginya, penyamaan soal UN sangat tidak adil. ”Bagi anak Jakarta, soal Bahasa Inggris itu mungkin mudah. Namun, bagi siswa kami, soal UN sangat sulit. UN ini terlalu dipaksakan sehingga kami pun terpaksa membantu siswa,” ujarnya.
Argumen Ramlan ini mungkin benar menyangkut kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah. Ramlan dan para guru hanya tidak sampai hati saja melihat siswa mereka gagal. ”Karena sebagian besar orangtua mereka itu buruh tani dan buruh kebun,” katanya.
Kini wajahnya tambah keruh. Dua malam terakhir dia kurang istirahat. Rabu siang lalu dia harus menjalani pemeriksaan polisi bersama 16 guru lain sampai Kamis dini hari. Kini mereka berstatus tersangka pelanggar Pasal 263 (perihal pemalsuan surat) KUHP dengan ancaman hukuman paling lama 6 tahun penjara. Mereka wajib lapor kepada polisi dua kali seminggu.
Ramlan ingin semua pihak memahami peristiwa di sekolahnya. Namun, ia tak melanjutkan perkataannya. Dia buru-buru meninggalkan sekolah saat sejumlah wartawan ingin meminta penjelasan lagi. Ia mengakhiri pembicaraan dan pulang.
Para guru kemarin duduk-duduk di lorong sekolah. Satu per satu meninggalkan tempat duduk setelah tahu yang datang adalah wartawan. Di beberapa ruang, sejumlah siswa berbincang. Sebagian ikut ekstrakurikuler. Saat didekati, mereka membalikkan badan.
Sejak peristiwa Rabu lalu, tak banyak informasi keluar dari sekolah. Suasana sekolah itu kini jadi beku karena kekeliruan. Bangku-bangku dan lorong sekolah terasa senyap. Di salah satu meja guru bertumpuk koran-koran berisi berita penggerebekan para guru dan kecurangan sekolah itu.
Akan tetapi, praktik kecurangan UN di Sumut tak cuma terjadi di SMAN 2 Lubuk Pakam. Kecurangan juga terjadi di enam daerah lain di 24 SMA sederajat, yaitu di Medan, Humbang Hasundutan, Pematang Siantar, Simalungun, Toba Samosir, dan Binjai. Kecurangan di enam daerah itu masih sebatas laporan Komunitas Air Mata Guru (KAMG), belum termasuk kejadian lain seperti di SMAN 2 Lubuk Pakam.
Tahun lalu, KAMG melaporkan kecurangan serupa di sejumlah daerah di Sumut. Praktik kecurangan terbukti direncanakan demi nama baik sekolah dan daerah. Yang mengherankan, proses hukum bagi para pelaku kecurangan UN ternyata tak benar-benar ditegakkan. Setahun kemudian kasus serupa terulang.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Deli Serdang Ajun Komisaris Polisi Ruruh Wicaksono mengatakan, penggerebekan dilakukan berkat informasi awal datang dari seseorang.
Kedatangan satuan Densus 88 ke sekolah mendapat reaksi keras dari Wagino, orangtua murid dan kebetulan Ketua Komite Sekolah SMAN 2 Lubuk Pakam. ”Saya menyayangkan polisi. Tindakan mereka berlebihan. Apalagi ada letusan senjata,” ujarnya.
Wagino juga kesal dan kecewa pada sekolah itu. ”Namun, itu bukan tanpa sebab. Semua terjadi karena UN dipaksakan digelar di seluruh Indonesia. Bagaimana bisa fair, kualitas guru beda, fasilitas sekolah berbeda. Anak-anak kami harus menghadapi soal yang sama dengan soal siswa di Jakarta,” katanya.

Monday, April 7, 2008

Internet Murah dengan First Media

Selama ini saya selalu kesulitan untuk memakai internet di rumah. Maklum, rumah saya kebetulan termasuk yang "kurang beruntung" sehingga tak mendapat jatah telepon kabel / PSTN dari PT Telkom. Karena itu berinternet-ria dengan Telkomnet instan ataupun Speedy tak bisa dilakukan. Alternatif berikutnya adalah dengan menggunakan jaringan wireless. Sayang seribu sayang, jaringan 3G juga belum mau mampir ke daerah rumah saya. Pilihan yang terpaksa diambil adalah menggunakan jaringan GPRS "biasa" dari operator GSM. Kebetulan saya hanya memiliki telepon selular GSM. Untuk membeli telepon CDMA yang konon kecepatan datanya lebih tinggi dari GPRS itu belum bisa dilakukan karena pertimbangan efisiensi. Jadi, "terpaksalah" ber-internet di rumah dilakukan dengan menggunakan ponsel GSM plus kabel modemnya. Namun sayang, ada dua kelemahan yang sangat mengganggu dari pemakaian GPRS ini : biaya yang mahal dan kecepatan yang amat sangat terlampau LAMBAT sekali.

Tapi akhirnya jaman jahiliyah itu berlalu. Setelah proses "Awas Galian Serat Optik" yang memakan waktu beberapa hari, beberapa bulan kemudian muncul lah orang-orang berseragam First Media menawarkan jasa mereka. Tentu saya tak langsung menyambut mereka dengan tangan terbuka, karena sebelumnya saya sempat membaca komplain dari pelanggan mereka di surat pembaca Kompas. Belum lagi ketika googling dengan kata kunci First Media, banyak juga yang komplain dengan pelayanan First Media a.k.a Kabel Vision ini. Baik itu tentang layanan internetnya (FastNet) ataupun TV kabelnya (HomeCable). Tetapi ada juga pelanggan yang cukup puas dengan FastNet, terutama karena kecepatannya dan tarifnya yang sangat murah.

Karena kebutuhan internet yang mendesak, akhirnya saya memberanikan diri juga menelepon sales mereka. Responnya ternyata sangat cepat, dua hari kemudian rumah saya disurvey dan kabel + modemnya langsung dipasang. Test pertama membuat saya terkagum-kagum. Kecepatannya ruaarr biasa. Dan ini semua saya dapatkan bahkan sebelum saya membayar sepeser pun.

Namun tak lama setelah teknisinya pergi, masalah pertama pun muncul. Si FastNet terputus-putus selama beberapa saat. Tetapi malamnya sudah mulai lancar kembali. Beberapa hari kemudian si fastNet tak pernah putus lagi. Sampai saat ini saya masih senang menggunakan FastNet karena kecepatannya dan terutama karena tarifnya yang murah, 99 ribu (+ PPN) sepuasnya. Tanpa takut dikenai biaya tambahan ataupun tarif membengkak karena kesalahan billing center.

Di bawah ini hasil test kecepatan dengan menggunakan Speedtest :

Friday, March 28, 2008

Taksi Bandara

Kalau saya bepergian dengan pesawat terbang, salah satu hal menarik yang sering saya perhatikan adalah sistem "per-taksi-an" dan kelakuan sopir taksi di bandara tersebut.

Kalau ke bandara Juanda Surabaya, sistem taksinya resmi pakai borongan. Kita tinggal ke counter taksi resmi bandara, membayar tarif sesuai radius tujuan kita, dan naik ke taksi. Selesai. Ini sistem yang praktis dan terus terang saya paling suka yang seperti ini. Tidak ada biaya tambahan lain-lain (tol, parkir, dsb) dan si supir taksi juga nggak pernah macam-macam untuk menambah mahal ongkos. Taksinya juga seragam (hanya ada satu merk) jadi kualitasnya hampir sama semua.

Beberapa bandara lain juga pakai sistem yang sama, hanya kadang-kadang supir taksinya suka pilih-pilih penumpang yang radius tujuannya jauh. Atau kita suka di "cegat" sama sopir taksi non bandara atau taksi gelap yang juga "diijinkan" masuk bandara.

Beda lagi dengan beberapa bandara di Eropa dan Asia yang pernah saya kunjungi. Penumpang yang akan menggunakan taksi akan antri di sebuah taxi line dan kita akan mendapatkan taksi sesuai urutan antrian, apapun merk taksi tersebut. Jika di negara maju, hal ini tidak menjadi masalah karena kualitas dan pelayanan taksi hampir sama bagusnya.

Bagaimana di bandara Soekarno-Hatta ? Di bandara internasional yang menjadi pintu gerbang negara Republik Indonesia ini, sistem yang dipakai adalah "freedom to choose". Artinya para calon penumpang bebas memilih naik taksi A, taksi B, atau taksi C tanpa harus antri hanya di satu taxi line. Ada kira-kira 10 - 15 taxi line yang dibedakan menurut merk-nya. Sekarang yang menjadi masalah (paling tidak menurut saya) hanya ada 1 sampai 3 merk taksi saja yang cukup baik. Yang lainnya kurang baik (pelayanan, kondisi taksi, supir ugal-ugalan, sengaja muter-muter biar argometer nambah, dst). Akibatnya taksi-taksi baik tersebut selalu habis diserbu penumpang sehingga mau tidak mau kita harus "gambling" naik taksi yang kurang baik. Atau terpaksa naik taksi gelap / omprengan bahkan ojek yang serabutan mencari penumpang di bandara. Alternatif lain adalah naik bis Damri atau menyewa mobil yang lebih mahal.

Anyway, saran saya sebaiknya :
1. Hanya taksi-taksi baik saja yang dipertahankan di bandara.
2. Tidak ada salahnya memakai sistem borongan resmi, dari sisi pelanggan lebih ada kepastian harga dan sopir taksi tidak punya alasan untuk muter-muter supaya argo lebih mahal / minta ongkos tambahan diluar argometer.
3. Maksimalkan moda transportasi yang lain seperti bis (di negara lain, pelayanan bis-nya bisa jauh lebih baik), kereta api / MRT, dll.
4. Sebaiknya tidak perlu ada diskriminasi antara kendaraan pejabat dengan kendaraan pribadi non-pejabat dalam hal parkir / berhenti di sisi bandara (ini sih saran tambahan saja, agak nggak sreg lihat kendaraan-kendaraan pejabat boleh parkir di daerah yang terlarang untuk kendaraan lain).
5. Sepertinya nih, sudah waktunya kita punya bandara baru sebagai pintu masuk Jakarta. Bandara yang sekarang sudah terlalu ramai, fasilitasnya sudah tua / jelek, dan sangat ketinggalan dibandingkan (nggak usah jauh-jauh) bandara utama Malaysia atau Singapura. Ini sih nggak ada hubungannya sama judul di atas, tapi hanya tambahan saja seperti saran no. 4 juga.

Sunday, February 3, 2008

Balikpapan, 1 November 1983

Pagi itu kami berbaris menuju pinggir jalan raya yang tak jauh dari sekolah. Dalam seragam putih & merah, anak-anak SD yang ceria ini kemudian berjajar di kedua sisi jalan. Rombongan tamu agung akan tiba dari Jakarta. Berbagai lapisan masyarakat tumplek di pinggir jalan, bergabung dengan murid-murid dari berbagai sekolah yang memegang bendera merah putih kecil dari kertas minyak. Aku dan teman-teman sangat bersemangat mengikuti acara ini. Akhirnya kami akan dapat sekilas melihat Bapak Presiden Soeharto yang datang untuk meresmikan kilang minyak Balikpapan.

Kedatangan rombongan Presiden sudah menjadi bahan pembicaraan yang menarik sejak berminggu-minggu sebelumnya. Aku sendiri belum pernah melihat langsung bapak Presiden, selama ini hanya dapat menyaksikan melalui layar kaca TVRI. Tak hanya aku, teman-teman dan guru-guru di sekolah juga merasakan gairah yang sama. Bahkan seorang guru membahas posisi iring-iringan mobil dan pengawalan yang akan menyertai kedatangan sang kepala negara. Karena orangtuaku termasuk dalam panitia kedatangan Presiden, maka mobil dinas ayahku juga ditempeli stiker khusus (bergambar huruf P besar) sebagai ijin masuk ke lokasi acara. Acaranya sendiri akan dilakukan di Banua Patra (semacam community hall) sebagai tempat makan siang dan di lokasi kilang minyak untuk acara peresmian.

Penjagaan ketat dilakukan dimana-mana. Arus lalu lintas dialihkan. Polisi-polisi dengan sepeda motor patroli besar mondar mandir mengatur massa yang menyemut dipinggir jalan. Beberapa polisi bahkan ber"atraksi" dengan motornya berjalan zig-zag atau jalan tanpa memegang setang motor, pura-pura menyuruh massa menepi dengan kedua tangannya. Akhirnya rombongan Presiden pun datang. Di awali dengan berbagai voor rijder, mobil pengawal, mobil pejabat, kemudian ... Indonesia 1 pun lewat. Kemeriahan pecah. Bendera-bendera kecil dilambai-lambaikan dengan bersemangat. Walau hanya sekilas (bahkan aku hanya sempat melihat ibu Tien dibalik kaca mobil) namun kehadiran rombongan Presiden telah menjadi selingan yang
menarik selama aku bersekolah SD di Balikpapan.

Kejutan berikutnya muncul ketika aku pulang sekolah hari itu. Ternyata di rumah telah menanti
makanan-makanan lezat sisa acara yang dibagikan kepada panitia.

Monday, January 28, 2008

Selamat Jalan Pak Harto

Kami akan selalu mengenang jasamu bagi negri ini.
Semoga amal dan ibadahmu diterima di sisi Nya ...

Dadah Pak Piden ...

:_(