Friday, April 4, 2008

Planet

Hari Senin pagi, tanggal 31 Maret 2008.


Sebelum berangkat kerja aku menyempatkan diri menggotong teleskop ke halaman belakang rumah. Sebuah "bintang" yang cukup terang menarik perhatianku. Letaknya tak terlalu jauh dari bulan setengah yang masih jelas terlihat di atas kepala. Ketika "bintang" itu aku intip dengan teleskop, ternyata bentuknya bundar dan tidak memancarkan cahaya yang menyilaukan seperti layaknya bintang. Warnanya putih agak keabuan. Aku segera tahu, ini pastilah sebuah planet. Saat itu yang terpikir adalah : Venus ? Tapi setelah membuka Stellarium, aku menjadi yakin bahwa planet itu ternyata adalah Jupiter. Hari Selasa pagi keesokan harinya, aku kembali mengamati sang Jupiter. Kali ini aku dapat melihat garis-garis melintang dipermukaannya yang merupakan tanda khas Jupiter.

(Gambar dari : http://nssdc.gsfc.nasa.gov/)

Kemudian siangnya aku mendapat pinjaman sebuah lensa Barlow dari seorang teman. Selasa malam aku kembali berburu planet. Kali ini tanpa sengaja aku menemukan Saturnus. Tampak cincin Saturnus yang terkenal itu, dan gambarnya semakin besar setelah aku menambahkan lensa Barlow pinjaman.


(Gambar dari : http://nssdc.gsfc.nasa.gov/)

Ini adalah pengalaman pertamaku melihat planet dengan teleskop. Sungguh pengalaman yang berkesan. Sukar dilukiskan dengan kata-kata. Akhirnya planet-planet yang selama ini hanya kulihat gambarnya bisa kusaksikan secara langsung melalui teleskop.

Friday, March 28, 2008

Put Big Stone First

Posting ini saya ambil dari e-mail yang diforward oleh seorang sahabat.

Suatu hari, seorang ahli 'Management Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.

Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata:
"Baiklah, sekarang waktunya kuis!"

Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu kedalam toples.

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya:
"Apakah toples ini sudah penuh?"Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!"

Kemudian dia berkata, "Benarkah?"

Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat di antara celah-celah batu-batu itu. Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi:" Apakah toples ini sudah penuh?"
Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab.

"Bagus!" jawabnya.

Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir.
Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong di antara kerikil dan bebatuan. Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"
"Belum!" serentak para siswanya menjawab.

Sekali lagi dia berkata, "Bagus!"
Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toplesitu terisi penuh hingga ke ujung atas. Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kepada para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"

Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab,"Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"

"Bukan!", jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya.Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa :JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN,MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESARITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu?Mungkin 'masa depan', anak-ankmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi,persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu".

Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya.

Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".

Taksi Bandara

Kalau saya bepergian dengan pesawat terbang, salah satu hal menarik yang sering saya perhatikan adalah sistem "per-taksi-an" dan kelakuan sopir taksi di bandara tersebut.

Kalau ke bandara Juanda Surabaya, sistem taksinya resmi pakai borongan. Kita tinggal ke counter taksi resmi bandara, membayar tarif sesuai radius tujuan kita, dan naik ke taksi. Selesai. Ini sistem yang praktis dan terus terang saya paling suka yang seperti ini. Tidak ada biaya tambahan lain-lain (tol, parkir, dsb) dan si supir taksi juga nggak pernah macam-macam untuk menambah mahal ongkos. Taksinya juga seragam (hanya ada satu merk) jadi kualitasnya hampir sama semua.

Beberapa bandara lain juga pakai sistem yang sama, hanya kadang-kadang supir taksinya suka pilih-pilih penumpang yang radius tujuannya jauh. Atau kita suka di "cegat" sama sopir taksi non bandara atau taksi gelap yang juga "diijinkan" masuk bandara.

Beda lagi dengan beberapa bandara di Eropa dan Asia yang pernah saya kunjungi. Penumpang yang akan menggunakan taksi akan antri di sebuah taxi line dan kita akan mendapatkan taksi sesuai urutan antrian, apapun merk taksi tersebut. Jika di negara maju, hal ini tidak menjadi masalah karena kualitas dan pelayanan taksi hampir sama bagusnya.

Bagaimana di bandara Soekarno-Hatta ? Di bandara internasional yang menjadi pintu gerbang negara Republik Indonesia ini, sistem yang dipakai adalah "freedom to choose". Artinya para calon penumpang bebas memilih naik taksi A, taksi B, atau taksi C tanpa harus antri hanya di satu taxi line. Ada kira-kira 10 - 15 taxi line yang dibedakan menurut merk-nya. Sekarang yang menjadi masalah (paling tidak menurut saya) hanya ada 1 sampai 3 merk taksi saja yang cukup baik. Yang lainnya kurang baik (pelayanan, kondisi taksi, supir ugal-ugalan, sengaja muter-muter biar argometer nambah, dst). Akibatnya taksi-taksi baik tersebut selalu habis diserbu penumpang sehingga mau tidak mau kita harus "gambling" naik taksi yang kurang baik. Atau terpaksa naik taksi gelap / omprengan bahkan ojek yang serabutan mencari penumpang di bandara. Alternatif lain adalah naik bis Damri atau menyewa mobil yang lebih mahal.

Anyway, saran saya sebaiknya :
1. Hanya taksi-taksi baik saja yang dipertahankan di bandara.
2. Tidak ada salahnya memakai sistem borongan resmi, dari sisi pelanggan lebih ada kepastian harga dan sopir taksi tidak punya alasan untuk muter-muter supaya argo lebih mahal / minta ongkos tambahan diluar argometer.
3. Maksimalkan moda transportasi yang lain seperti bis (di negara lain, pelayanan bis-nya bisa jauh lebih baik), kereta api / MRT, dll.
4. Sebaiknya tidak perlu ada diskriminasi antara kendaraan pejabat dengan kendaraan pribadi non-pejabat dalam hal parkir / berhenti di sisi bandara (ini sih saran tambahan saja, agak nggak sreg lihat kendaraan-kendaraan pejabat boleh parkir di daerah yang terlarang untuk kendaraan lain).
5. Sepertinya nih, sudah waktunya kita punya bandara baru sebagai pintu masuk Jakarta. Bandara yang sekarang sudah terlalu ramai, fasilitasnya sudah tua / jelek, dan sangat ketinggalan dibandingkan (nggak usah jauh-jauh) bandara utama Malaysia atau Singapura. Ini sih nggak ada hubungannya sama judul di atas, tapi hanya tambahan saja seperti saran no. 4 juga.

Wednesday, March 26, 2008

Teleskop Baru

Hari ini aku membeli sebuah teleskop baru, sebuah Celestron model AstroMaster 130EQ dengan aperture 5 inchi. Kebetulan salah satu hobiku adalah mengamati bintang, rasi bintang, dan planet di langit malam.

Untuk check harga teleskop atau peralatan astronomi & astrofotografi lainnya bisa dilihat di http://www.prominencescope.com/

Thursday, February 21, 2008

Analemma

Apakah analemma itu ? Dari Wikipedia.org :
In astronomy, an analemma (IPA: /?æn?'l?m?/, Latin for the pedestal of a sundial) is a curve representing the angular offset of a celestial body (usually the Sun) from its mean position on the celestial sphere as viewed from another celestial body (usually the Earth).

Jika kita berdiri di suatu posisi tertentu kemudian melihat ke matahari, setiap hari pada jam yang sama selama satu tahun, maka kita akan melihat bahwa posisi matahari bergeser membentuk lintasan yang mirip angka delapan.

Misalnya, di depan rumah saya dipasang sebuah tripod kamera yang dipaku permanen ke tanah. Kemudian setiap hari pada jam 11 tepat saya akan memotret matahari terus menerus selama satu tahun. Kira-kira gambar yang akan saya dapat akan seperti karya Anthony Ayiomamitis di bawah ini.




oleh : Anthony Ayiomamitis
jam : 16:00:00 UT+2
tanggal : 7 Jan 2003 - 20 Dec 2003
lokasi : Temple of Zeus, Ancient Nemea, Greece

Lebih jauh mengenai Analemma bisa dilihat di :

http://www.perseus.gr/Astro-Solar-Analemma.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Analemma

Sunday, February 3, 2008

Humor Batman

- Kenapa Robin temenan sama Batman ? Biar bisa nebeng mobil Batman.
- Kenapa Robin nebeng Batman ? Karena rumahnya searah.
- Kenapa Batman sama Robin kalo keluar selalu malam ? Karena kalo sore masih 3 in 1.
- Superman bodoh, karena pakai underwear di luar. Batman lebih bodoh karena punya sayap tapi nggak bisa terbang. Robin paling bodoh, udah tau Batman bodoh kok masih ditemenin.
- Superman logonya S. Robin logonya R. Kenapa Batman nggak pake logo B ? Udah keduluan Bobo.

Balikpapan, 1 November 1983

Pagi itu kami berbaris menuju pinggir jalan raya yang tak jauh dari sekolah. Dalam seragam putih & merah, anak-anak SD yang ceria ini kemudian berjajar di kedua sisi jalan. Rombongan tamu agung akan tiba dari Jakarta. Berbagai lapisan masyarakat tumplek di pinggir jalan, bergabung dengan murid-murid dari berbagai sekolah yang memegang bendera merah putih kecil dari kertas minyak. Aku dan teman-teman sangat bersemangat mengikuti acara ini. Akhirnya kami akan dapat sekilas melihat Bapak Presiden Soeharto yang datang untuk meresmikan kilang minyak Balikpapan.

Kedatangan rombongan Presiden sudah menjadi bahan pembicaraan yang menarik sejak berminggu-minggu sebelumnya. Aku sendiri belum pernah melihat langsung bapak Presiden, selama ini hanya dapat menyaksikan melalui layar kaca TVRI. Tak hanya aku, teman-teman dan guru-guru di sekolah juga merasakan gairah yang sama. Bahkan seorang guru membahas posisi iring-iringan mobil dan pengawalan yang akan menyertai kedatangan sang kepala negara. Karena orangtuaku termasuk dalam panitia kedatangan Presiden, maka mobil dinas ayahku juga ditempeli stiker khusus (bergambar huruf P besar) sebagai ijin masuk ke lokasi acara. Acaranya sendiri akan dilakukan di Banua Patra (semacam community hall) sebagai tempat makan siang dan di lokasi kilang minyak untuk acara peresmian.

Penjagaan ketat dilakukan dimana-mana. Arus lalu lintas dialihkan. Polisi-polisi dengan sepeda motor patroli besar mondar mandir mengatur massa yang menyemut dipinggir jalan. Beberapa polisi bahkan ber"atraksi" dengan motornya berjalan zig-zag atau jalan tanpa memegang setang motor, pura-pura menyuruh massa menepi dengan kedua tangannya. Akhirnya rombongan Presiden pun datang. Di awali dengan berbagai voor rijder, mobil pengawal, mobil pejabat, kemudian ... Indonesia 1 pun lewat. Kemeriahan pecah. Bendera-bendera kecil dilambai-lambaikan dengan bersemangat. Walau hanya sekilas (bahkan aku hanya sempat melihat ibu Tien dibalik kaca mobil) namun kehadiran rombongan Presiden telah menjadi selingan yang
menarik selama aku bersekolah SD di Balikpapan.

Kejutan berikutnya muncul ketika aku pulang sekolah hari itu. Ternyata di rumah telah menanti
makanan-makanan lezat sisa acara yang dibagikan kepada panitia.